SOP PENGKAJIAN
NYERI DAN MANAGEMENT NYERI
1. Tahap
Preinteraksi : menyiapkan alat ( kertas pengkajian nyeri dan alat tulis), membaca
catatan medis keperawatan, mengeksplorasi kekuatan dan kelemahan dalam diri
saya, membaca bissmillah, mencuci tangan 6 langkah, dan bertemu dengan klien
2. Tahap
orientasi :
a. Mengucapkan
salam “ assalamualaikum”
b. Memanggil
nama klien dan memverifikasi dengan nama yang ada direkam medis “Ny. S umur 60
tahun alamat Pundong, Bantul”
c. Memperkenalkan
diri “perkenalkan ibu nama saya fistalina sukmianti, saya mahasiswa praktek
dari keperawatan UMY”
d. Menjelaskan
prosedur dan tujuan“pada pagi ini saya akan menanyakan terkait dengan nyeri
pada dada yang ibu rasakan ya ibu, dan saya nanti dengan terapi obat dan
relaksasi saya In Sya Allah akan membantu meredakan nyeri yang ibu rasa
sehingga nanti ibu akan merasa nyaman saat nyeri itu berkurang”
e. Kontrak
waktu “ baik ibu untuk prosedurnya nanti dibutuhkan waktu kurang lebih 15-30
menit”
f. Menanyakan
kesediaan, dan mempersilahkan bertanya “ baik ibu dari penjelasan saya tadi
apakah ibu bersedia? Jika iya sebelumnya ada yang ingin ibu tanyakan?”
g. Menjaga
privasi klien “ permisi yaa ibu saya tutup tirainya dahulu”.
3. Fase
kerja “
a. Melakukan
pengkajian nyeri dengan “OPQRSTUV”
1)
O: kapan nyeri itu timbul, seberapa lama nyeri
timbul, seberapa sering nyeri itu timbul
2)
P: penyebab nyeri itu dapat timbul, hal-hal yang
membuat nyeri itu semakin bertambah atau dapat berkurang ?
3)
Q: rasa nyeri yang dirasakan seperti apa ?
tertusuk, terhantam benda keras, dipukul?
4)
R : daerah nyeri? Menyebar atau tidak ?
5)
S : nyeri teringan yang pernah dirasakan,
seberapa menganggu dari nyeri yang dirasakan terhadap aktifitas yang dilakukan
?
6)
T : terapi yang digunakan untuk mengurangi nyeri
oleh pasien
7)
U: dampak dari nyeri yang dirasakan pada dirinya
?
8)
V: target hasil yang diharapkan pasien setelah
mendapatkan treatement atau terapi pereda nyeri ?
b. Melakukan
teknik pereda nyeri :
1)
Mengatur posisi klien : bertujuan untuk
memperlancar sirkulasi dari darah pada bagian tubuh tertentu sehingga suplai
oksigen akan meningkat dan dapat mengurangi nyeri yang dirasakan
a) Mengarahkan
pasien untuk miring kiri atau kanan
b) Menaikkan
bed pasien 45o
c) Menaikkan
bed pasien 90o
2)
Mengajarkan teknik nafas dalam : bertujuan untuk
membuka (vasodilatasi) pembuluh darah sehingga aliran darah lancar dan dapat
mengurangi nyeri serta dapat menarik jumlah oksigen untuk disalurkan pada otak
sehingga dapat membuat otak mengeluarkan hormon untuk mengurangi nyeri
a) Menginstruksikan
klien untuk menarik nafas lewat hidung dan mengeluarkan lewat mulut dan tahan
selama 3 detik saat sebelum dikeluarkan ( teknik nafas dalam yang benar: saat
menarik nafas terlihat adanya tarikan otot dinding dada sehingga membuat dada
terlihat mengembang.
b) Ulangi
prosedur tersebut sampai 3 kali
c) Menginstruksikan
keklien untuk melakukan nafas dalam saat nyeri yang dirasakan timbul
3)
Mengajarkan teknik distraksi : bertujuan untuk
mengalihkan pikiran dari pasien agar tidak terfokus pada nyeri yang dirasakan.
a) Menanyakan
ke klien tentang hal-hal yang suka dilakukan , misal membaca koran,
mendengarkan musik, bercerita dsb
b) Menginstruksikan
klien untuk melakukan teknik distraksi saat nyeri timbul
4)
Mengajarkan teknik guided imagry : bertujuan
untuk membuka kembali memori jangka pendek ataupun panjang yang menyenangkan
sehingga otak dengan sendirinya akan mengeluarkan hormon pereda nyeri.
a) Menanyakan
hal-hal yang membuat klien merasa senang dan nyaman, misal : memori bertamasya
bersama keluarga, kegiatan kumpul dan bermain bersama anak.
b) Menginstruksikan
klien untuk nafas dalam dan mengrilekskan semua badan dan tidak memperdulikan
lingkungan dan suara sekitar kecuali suara praktikan/instruktor
c) Memberikan
sugesti postif, menginstruksikan klien untuk membayangan sesuatu yang indah
(ulangi sampe klien benar-benar bisa memasuki suasana tersebut)
c. Mengevaluasi
hasil dari pengkajian dan managemen nyeri non farmakologi
4. Tahap
terminasi :
a. Mengeksplorasi
perasaan dan evaluasi tindakan managemen nyeri non farmakologi “ klien
mengatakan merasa lebih lega bisa menghilangkan nyeri yang dia rasakan tanpa
menggunakan obat”
b. Melakukan
kontrak waktu selanjutnya “ baik ibu, nanti jam 12 saya akan menemui ibu lagi
untuk memberikan obat oral ya bu?”
c. Mengucap
salam “ kalau begitu saya permisi ibu, assalamualaikum, syafakillah bu”.
d. Mencuci
tangan
5. Dokumentasi
o
S: klien mengatakan sebelum diterapi nyeri yang
dirasakan disebabkan saat dia menarik nafas dahak yang ada didalam dadanya
tidak mampu keluar, dia merasakan nyeri setiap kali menarik nafas dengan rasa
nyeri seperti dipukul dibagian dada dengan skala 8, yang bisa klien lakukan
untuk mengurangi nyeri adalah beristigfar tetapi terkadang tidak mampu fokus
sehingga nyeri tetap dapat dia rasakan, klien merasa cemas dan gelisah serta
merasa sangat kesakitan saat ingin menarik nafas, dia berharap nyeri yang dia
rasakan dapat berkurang menjadi 5. Setelah diterapi nyeri yang dirasakan
disebabkan saat dia menarik nafas dahak yang ada didalam dadanya tidak mampu
keluar, dia merasakan nyeri setiap kali menarik nafas dengan rasa nyeri seperti
dipukul dibagian dada dengan skala 5, klien sudah mulai berkurang untuk
perasaan cemas dan gelisah.
o
O: klien tampak tidak nyaman, sesak nafas,
cemas, dan gelisah
o
A; nyeri teratasi sebagian
o
P : kolaborasikan dengan terapi managemen nyeri
farmakologi.
Komentar
Posting Komentar