Langsung ke konten utama

SOP pemasangan NGT dan Perawatan NGT



Pemasangan NGT, Perawatan NGT

1.      Persiapan Alat
ü  NGT sesuai dengan ukuran klien
ü  Pinset Anatomis
ü  Spuit
ü  Bengkok
ü  Jelly
ü  Plester
ü  Perban
ü  Stetoskop
ü  Sarung Tangan

2.      Tahap Pra Interaksi
ü  Verifikasi Order : akan melakukan pemasangan kateter pada Ibu R
ü  Siapkan ala-alat
ü  Bersiap bertemu dengan klien

3.      Tahap Orientasi
ü  Memperkenalkan diri
§  (“Permisi Ibu, perkenalkan saya perawat Neza yang hari ini berjaga dibangsal ini dari pukul 08.00 hingga puku 14.00 siang nanti, benar ini dengan  Ibu R?” Ohh.. benar yah ini dengan Ibu R”)
ü  Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan pada klien
§  (“Ibu, saya kesini tujuannya yaitu akan melakukan pemasangan selang dihidung ibu agar kebutuhan nutrisi ibu tetap terpenuhi, kegiatan ini akan berlangsung sekitar 10 menit, bagaimana apakah Ibu bersedia?ohh baiklah kalau memang Ibu bersedia”)
ü  Beri kesempatan klien untuk bertanya
§  (“ Ibu sebelum kita memulai kegiatan ini, apakah ada yang Ibu belum mengerti dan ingin ditanyakan?” oh baiklah kalau memang tidak ada , bisa langsung kita mulai yah bu”)
ü  Siapkan lingkungan klien dengan menjaga privasi klien yaitu menutup korden

4.      Fase Kerja
ü  Atur posisi pasien
ü  Ukur panjang tube / selang dengan metode :
a)      Metode tradisional : ukur jarak dari puncak lubang hidung kedaun telinga dan ke prosesus xipoideus di sternum
b)      Metode Hanson : mula-mula ditandai 50 cm pada tube / selang lalu lakukan pengukuran dengan metode tradisional. Selang yang akan di masukkan pertengahan antara 50 cm dengan tanda tradisional
ü  Beri tanda pada panjang selang yang sudah diukur dengan plester
ü  Oleskan jelly pada selang NGT sepanjang 10-20 cm
ü  Informasikan kepada klien bahwa selang akan dimasukkan melalui hidung dan instruksikan kepadapasien agar menelan perlahan
ü  Jika selang NGT sudah masuk periksa letak selang dengan cara :
a)      Pasang spuit yang telah diisi udara kira-kira 10-20 ml lalu dorong sehingga udara masuk kedalam lambung kemudian dengarkan dengan menggunakan stetoskop di daerah lambung
b)      Masukkan ujung bagian luarselang NGT kedalam gelas yang berisi air. Jika ada gelembung udara bearti masuk kedalam paru-paru , jika tidak ada gelembung udara bearti masuk kedalam lambung

ü  Fiksasi selang NGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
ü  Tutup ujung luar NGT

5.      Fase Terminasi
ü  Evaluasi reson dan kondisi klien
ü  Simpulkan hasil kegiatan : telah dilakukan pemasangan NGT pada Ibu R padajam 10.00
ü  Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
(“Ibu, kegiatan ini sudah selesai dilakukan, untuk itu nanti jam 12.00 saat makan siang saya akan kesini lagi ibu untuk memberikan ibu diit melalu selang ini”)
ü  Mengucapkan Alhamdulillah

6.      Dokumentasi
Nama               : Ibu R
Usia                 : 48 Tahun
Tindakan         : Pemasangan NGT
Hari/Tanggal   : Rabu , 22 November 2014 , Pukul 10.00 WIB

S                      : Pasien mengatakan agak merasa kurang nyaman                        setelah dipasang selang NGT

 O                      : Pasien tampak kooperatif, selang NGT terpasang tepat masuk didalam lambung

A                       : Kebutuhan Nutrisi teratasi
P                       : Memberikan diit melalui selang jam 12.00

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) A.       Definisi PPOK PPOK adalah penyakit paru kronik dengan karakteristik adanya hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversibel atau reversibel parsial, serta adanya respons inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang berbahaya (GOLD, 2009). PPOK merupakan istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya (Price, Sylvia Anderson : 2005)PPOK  merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama  dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronkitis kronis, emfisema paru-paru dan Asma   bronchiale (S Meltzer, ...

SOP Bladder Training

Bladder Training 1.       Persiapan Alat ü   Klem kateter/ klem arteri ü   Penampung urin (pispot) ü   Alat pelindung diri (APD) 2.       Tahap Pra Interaksi ü   Verifikasi order : akan melakukan bladder training pada klien Ibu M. ü   Siapkan alat-alat ü   Siap bertemu dengan klien 3.       Tahap Orientasi ü   Berikan salam, panggil klien dengan nama serta memperkenalkan diri (“permisi Ibu< benar ini dengan Ibu M? oiyah baiklah ibu, perkenalkan ibu saya perawat Neza yang hari ini bertugas hari ini dari pukul 08.00 hingga pukul 14.00 siang nanti”) ü   Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien dan keluarga (“Ibu , tujuan saya kesini yaitu akan melakukan bladder training, maksudnya yaitu ibu sedang terpasang selang pipis jadi agar ibu tidak terlalu bergantung dengan selang pipis maka akan saya latih pelan-pelan agar mampu nanti ny...