LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN POLA
NILAI DAN KEPERCAYAAN
KESIAPAN MENINGKATKAN RELIGIULITAS
A.
DEFINISI
Manusia terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual,
sosial dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya.
Seringkali permasalahan yang mucul pada klien ketika mengalami suatu kondisi
dengan penyakit tertentu (misalnya penyakit fisik) mengakibatkan terjadinya
masalah psikososial dan spiritual. Ketika klien mengalami penyakit, kehilangan
dan stres, kekuatan spiritual dapat membantu individu tersebut menuju
penyembuhan dan terpenuhinya tujuan dengan atau melalui pemenuhan kebutuhan
spiritual. Dengan kata lain apabila satu dimensi terganggu, maka dimensi yang
lain akan terganggu.
Penelitan menyebutkan seseorang dinyatakan usianya tinggal beberapa bulan, tetapi karena ia memilki koping yang baik berdasarkan pengalaman agamanya (salah satu sumber dimensi spiritual), ia tetap bahagia menjalani hari-harinya dengan bernyanyi dan ceria, membuat puisi-puisi yang indah. Ternyata orang tersebut mampu bertahan hingga bartahun-tahun. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Pressman, dkk (1990) menunjukkan bahwa wanita lanjut usia yang menderita farktur tulang pinggul yang kuat religi dan pengalaman agamanya, ternyata lebih kuat mental dan kurang mengeluh, depresi, dan lebih cepat berjalan daripada yang tidak mempunyai komitmen agama.Dari hal-hal tersebut diatas dapat dikatakan dimensi spiritual menjadi hal penting sebagai terapi kesehatan. Berikut akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konsep kesehatan spiritual.
Penelitan menyebutkan seseorang dinyatakan usianya tinggal beberapa bulan, tetapi karena ia memilki koping yang baik berdasarkan pengalaman agamanya (salah satu sumber dimensi spiritual), ia tetap bahagia menjalani hari-harinya dengan bernyanyi dan ceria, membuat puisi-puisi yang indah. Ternyata orang tersebut mampu bertahan hingga bartahun-tahun. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Pressman, dkk (1990) menunjukkan bahwa wanita lanjut usia yang menderita farktur tulang pinggul yang kuat religi dan pengalaman agamanya, ternyata lebih kuat mental dan kurang mengeluh, depresi, dan lebih cepat berjalan daripada yang tidak mempunyai komitmen agama.Dari hal-hal tersebut diatas dapat dikatakan dimensi spiritual menjadi hal penting sebagai terapi kesehatan. Berikut akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konsep kesehatan spiritual.
Dimensi spiritual adalah sesuatu yang terintegrasi dan
berhubungan dengan dimensi yang lain dalam diri seorang individu. Spiritualitas
mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif
pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. Dimensi spiritual
merupakan salah satu dimensi penting yang perlu diperhatikan oleh perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada seorang klien. Makhija (2002) menyatakan
bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan
personal individu. Keyakinan tersebut diketahui sebagai suatu faktor yang kuat
dalam penyembuhan dan pemulihan fisik. Oleh karena itu, menjadi suatu hal
penting bagi perawat untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar
dapat memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada klien.
Setiap individu memiliki definisi dan konsep yang berbeda
mengenai spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritualitas
termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan, dan eksistensi
(Emblen dalam Potter & Perry, 2005).Setiap individu memiliki pemahaman
tersendiri mengenai spiritualitas karena masing-masing memiliki cara pandang
yang berbeda mengenai hal tersebur. Perbedaan definisi dan konsep spiritualitas
dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup seseorang, serta
persepsi mereka tentang hidup dan kehidupan. Pengaruh tersebut nantinya dapat
mengubah pandangan seseorang mengenai konsep spiritulitas dalam dirinya sesuai
dengan pemahaman yang ia miliki dan keyakinan yang ia pegang teguh. Konsep
spiritual memiliki arti yang berbeda dengan konsep religius.
Banyak perawat dalam praktiknya tidak dapat membedakan kedua
konsep tersebut karena menemui kesulitan dalam memahami keduanya. Kedua hal
tersebut memang sering digunakan secara bersamaan dan saling berhubungan satu
sama lain. Konsep religius biasanya berkaitan dengan pelaksanaan suatu kegiatan
atau proses melakukan suatu tindakan. Konsep religius merupakan suatu sistem
penyatuan yang spesifik mengenai praktik yang berkaitan bentuk ibadah tertentu.
Emblen dalam Potter dan Perry mendefinisikan religi sebagai suatu sistem
keyakinan dan ibadah terorganisasi yang dipraktikan seseorang secara jelas menunjukkan
spiritualitas mereka. Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan
bahwa religi adalah proses pelaksanaan suatu kegiatan ibadah yang berkaitan
dengan keyakinan tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk
menunjukkan spiritualitas diri mereka. Sedangkan spiritual memiliki konsep yang
lebih umum mengenai keyakinan seseorang.
Terlepas dari prosesi ibadah yang dilakukan sesuai dengan
keyakinan dan kepercayaan tersebut. Konsep spiritual berkaitan berkaitan dengan
nilai, keyakinan, dan kepercayaan seseorang. Kepercayaan itu sendiri memiliki
cakupan mulai dari atheisme (penolakan terhadap keberadaan Tuhan) hingga
agnotisme (percaya bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi) atau theism (Keyakinan
akan Tuhan dalam bentuk personal tanpa bentuk fisik) seperti dalam Kristen dan
Islam. Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dari suatu kepercayaan seorang
individu. Keyakinan mendasari seseorang untuk bertindak atau berpikir sesuai
dengan kepercayaan yang ia ikuti. Keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan biasanya
dikaitkan dengan istilah agama. Di dunia ini, banyak agama yang dianut oleh
masyarakat sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Tiap
agama yang ada di dunia memiliki karakteristik yang berbeda mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan sesuai dengan prinsip yang
mereka pegang teguh. Keyakinan tersebut juga mempengaruhi seorang individu
untuk menilai sesuatu yang ada sesuai dengan makna dan filosofi yang
diyakininya. Sebagai contoh, persepsi seorang Muslim mengenai perawatan
kesehatan dan respon penyakit tentunya berbeda dengan persepsi seorang Budhis.
Semua itu tergantung konsep spiritual yang dipahami sesuai dengan keyakinan dan
keimanan seorang individu. Konsep spiritual yang dianut atau dipahami oleh seorang
klien dapat mempengaruhi cara pandang klien mengenai segala sesuatunya, tak
terkecuali dalam bidang kesehatan. Paradigma mengenai sakit, tipe-tipe
pengobatan yang dilakukan, persepsi mengenai kehidupan dan makna yang
terkandung di dalamnya adalah contoh penerapan konsep spiritual secara normal
pada diri seorang individu. Ada beberapa agama yang menerapkan pola normal
spiritualnya dengan cara:
1. Beberapa
orang menjadi spiritual setelah usia 40 tahun. Pada satu tingkat pergi ke kuil,
menghadiri wacana-wacana dan membaca buku-buku atau kitab-kitab dianggap sangat
spiritual.
2. Tingkat
kedua orang memiliki seorang guru mengikuti tradisi maka mereka memiliki
sadhana. Ini adalah zaman baru modern gaya
3. Ada
tingkat ketiga orang yang mempunyai dewa dan mereka upsana.
4. Beberapa
praktik seni seperti astrologi atau obat atau tari atau musik dan kemudian
mereka menggunakan waktu luang ada dalam sadhana spiritual.
5. Beberapa
orang menghadiri Bhajan dan kemudian melakukan pelayanan sosial yang juga baik
seperi pelayanan kesehatan.
B.
POLA
PERKEMBANGAN ASPEK SPIRITUAL
Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari
pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam
kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual,
sosial, dan spiritual (Rawlins, 1993). Dimensi-dimensi tersebut berada dalam
suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi, sehingga
adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya.
Perawat harus mengetahui tahap perkembangan spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi. Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia.
Perawat harus mengetahui tahap perkembangan spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi. Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia.
1.
Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari
masa perkembangan bayi. Haber (1987) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual
bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang
belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya
baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada
bayi (Widyatuti, 1999). Oleh karena itu, perawat dapat menjalin kerjasama
dengan orang tua bayi tersebut untuk membantu pembentukan nilai-nilai spiritual
pada bayi.
2.
Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan
pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun). Anak sudah mengalami peningkatan
kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk
untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini
memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati
acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi
kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti
cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi
salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima
pengalaman-pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual.
3.
Perkembangan spiritual pada anak masa pra
sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu
super ego. Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan
harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya
membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang
dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra
sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual.
Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran
konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak,
bahkan mereka masih kesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya.
Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak.
Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak.
4.
Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara
konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami
gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan
dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah
keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi
spiritual mereka.
5.
Remaja (12-18 tahun). Pada tahap ini individu
sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya
untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang
dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua
mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung
ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini
kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi
keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga,
walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini
merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan
membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua
dan remaja.
6.
Dewasa muda (18-25 tahun). Pada tahap ini
individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian
identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang
dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan
mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka
lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka
sudah dewasa.
7.
Dewasa pertengahan (25-38 tahun). Dewasa
pertenghan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar
mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan
moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah
merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan
dan nilai spiritual.
8.
Dewasa akhir (38-65 tahun) .Periode perkembangan
spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali
dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain
dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan
ritual spiritual meningkat.
9.
Lanjut usia (65 tahun sampai kematian). Pada
tahap perkembangan ini, menurut Haber (1987) pada masa ini walaupun
membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang
menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi
kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain. Riset membuktikan orang yang
agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan kehidupan lebih baik. Bagi
lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan hidup yang kurang, rasa
tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa takut mati. Sedangkan
pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati dan dapat lebih mampu
untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas
pada proses bukan pada kematian itu sendiri.
Dimensi
spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan manusia. Karena
setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan tingkat
pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan keyaninan
mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap perkembangan individu
menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual yang berbeda.
C.
MASALAH
KEBUTUHAN SPIRITUAL
Masalah spiritual
ketika penyakit , kehilangan, dan nyeri menyerang seseorang. Kekuatan spiritual
dapat membantu seseorang ke arah penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan
dan perhatian spiritual. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu
untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan
dan dukungan. Distresss spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang
mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan
seseorang merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. Individu mungkin
mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan
hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup. Orang menderita
disfungsi spiritual mungkin mengucapkan antaralain distresss atau mengatakan
butuh bantuan. Perwujudan verbalisasi mungkin tepat: “saya merasa bersalah
karena saya seharusnya memahami lebih dulu dia mempunyai serangan jantung” atau
mungkin berkata,” saya tidak pernah melewati pelayanan di 20 tahun”.
Perwujudan
mungkin menjadi lebih subjektif sebagai percakapan melantur dari klien tentang
hidup, mati, dan nilai. Klien mungkin bertanya kepada perawat untuk berdoa
untuk mereka atau memberitahukan pembimbing spiritual dari keadaan sakit mereka
Perubahan perilaku mungkin menjadi perwujudan dari disfungsi spiritual. Klien yang gelisah tentang hasil tes diagnosa atau yang menunjukan kemarahan setelah mendengar hasil mungkin menjadi menderita distresss spiritual. Beberapa orang menjadi lebih merenung, berupaya untuk memperhitungkan situasi dan mencari fakta bacaan yang berlaku. Beberapa reaksi emosional, mencari informasi, dan dukungan dari teman dan keluarga. Pengenalan dari masalah, kemungkinan yang timbul tidak bisa tidur atau kekurangan konsentrasi. Kesalahan, ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan kecemasan juga mungkin menjadi indikasi perubahan fungsi spiritual Ekspresi adaptif dan malaadaptif dari kebutuhan spiritual dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Perubahan perilaku mungkin menjadi perwujudan dari disfungsi spiritual. Klien yang gelisah tentang hasil tes diagnosa atau yang menunjukan kemarahan setelah mendengar hasil mungkin menjadi menderita distresss spiritual. Beberapa orang menjadi lebih merenung, berupaya untuk memperhitungkan situasi dan mencari fakta bacaan yang berlaku. Beberapa reaksi emosional, mencari informasi, dan dukungan dari teman dan keluarga. Pengenalan dari masalah, kemungkinan yang timbul tidak bisa tidur atau kekurangan konsentrasi. Kesalahan, ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan kecemasan juga mungkin menjadi indikasi perubahan fungsi spiritual Ekspresi adaptif dan malaadaptif dari kebutuhan spiritual dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
1. Kebutuhan
Pola perilaku adaptif Pola perilaku
malaadaptif Kepercayaan
2. Kepercayaan
diri dan memiliki daya tahan
3. Menerima
yang lain agar mampu bertemu dengan kebutuhan
4. Kepercayaan
dalam hidup
5. Menerima
hasil dari hidup
6. Terbuka
kepada Tuhan
7. Menunjukan
ketidaknyamanan dengan kesadaran diri sendiri
8. Mudah
tertipu
9. Merasakan
hanya orang dan tempat tertentu saja yang amaN
10. Mengharapkan
orang menjadi tidak ramah dan tidak dapat dipercaya
11. Tidak
sabar
D.
FAKTOR –FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN POLA SPIRITUALITAS
Kesehatan spiritual adalah komponen
penting dari seorang individu yang dimiliki dan sebuah aspek integral dari
filosofi kesehatan holistik. Kesehatan spiritual pasti mengalami keadaan yang
tidak selalu sehat seperti halnya kesehatan fisik. Secara langsung maupun tidak
langsung ada beberapa hal yang mempengaruhi kesehatan spiritual. Spiritualitas
tidak selalu berkaitan dengan agama, tetapi spiritualitas adalah bagaimana
seseorang memahami keberadaannya dan hubungannya dengan alam semesta.
Orang-orang mengartikan spiritualitas
dengan berbagai cara dan tujuan tersendiri. Setiap agama menyatakan bahwa
manusia ada dibawah kuasa Tuhan. Namun, dari semua itu setiap manusia berusaha
untuk mengkontrol spiritualitasnya. Inilah yang disebut dengan menjaga
kesehatan spiritual. Hal terpenting yang mempengaruhi kesehatan spiritual dan
sebaiknya kita jaga adalah nutrisi spiritual. Hal ini termasuk mendengarkan
hal-hal positif dan pesan-pesan penuh kasih serta memenuhi kewajiban keagaman
yang dianut. Selain itu juga dengan mengamati keindahan dan keajaiban dunia ini
dapat memberikan nutrisi spiritual. Menilai keindahan alam dapat menjadi
makanan bagi jiwa kita. Bahkan serangga yang terlihat buruk pun adalah sebuah
keajaiban untuk diamati dan dinilai.
Kedamaian dengan meditasi adalah bentuk lain untuk mendapatkan nutrisi
spiritual. Hal itu bukanlah meminta tuhan kita apa yang kita inginkan tetapi
mencari keheningan untuk merekleksikan dan berterima kasih atas apa pun yang
telah kita terima. Hal lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual kita adalah
latihan. Tidak hanya latihan dasar untuk kesehatan tubuh, tetapi juga latihan
spiritual untuk menjaga spiritual.
Latihan ini terdiri dari penggunaan jiwa
kita. Sehingga latihan tersebut memberi sentuhan pada jiwa kita dan digunakan
untuk menuntun kita untuk bertingkah-laku dengan baik, untuk menunjukan cinta
kasih dan perasaan pada oaring lain untuk memahami dan untuk mencari kedamaian.
Faktor lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah lingkungan. Hal ini
dikarenakan lingkungan dimana kita hidup adalah somber utama kejahatan ynag
dapat mempengaruhi jiwa kita. Kita harus waspada untuk menghindari keburukan
yang berasal dari lingkungan kita dan mencari hal positif yang dapat diambil.
Tantangan yang dapat mengancam kesehatan spiritual kita dapat berasal dari luar
maupun dari dalam dari kita. Ancaman dari luar dikarenakan setiap orang
memiliki bentuk penularan spiritual yang menyebarkan penyakit spiritual kepada
orang lain disekitar mereka. Beberapa orang merusak moral dan mencoba untuk
menarik orang lain untuk mengikuti kepercayaannya. Beberapa agama menberikan bekal
keimanan yang cukup untuk menolak kepercayaan lain. Banyak orang-orang yang
melakukan hal-hal yang buruk dan jahat. Kemudian mempengaruhi orang lain untuk
mengikuti hal-hal buruk yang dilakukan. Keinginan untuk melakukan hal-hal buruk
tersebut timbul dari keinginan diri sendiri. Jadi, Faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan spiritual adalah nutrisi, latihan dan lingkungan tempat
tinggal. Selain itu, terdapat ancaman dari luar maupun dari dalam diri kita.
Sehingga kita harus pandai-pandai untuk menjaga kesehatan spiritual kita.
E.
PATHWAY
1.
PENGKAJIAN
1. Anamnesa
a.
Identitas diri
b.
Riwayat penyakit dulu
c.
Riwayat penyakit dari keluarga
d.
Pengkajian fisik (head to toe)
e.
Vital sign
2. 11
pola gordon
a.
Pola persepsi dan manajemen kesehatan
b.
Pola nutrisi
c.
Pola eliminasi
d.
Pola katifitas dan latihan
e.
Pola persepsi dan konsep diri
f.
Pola istirahat dan tidur
g.
Pola peran dan hubungan
h.
Pola seksual dan reproduksi
i.
Pola stress dan koping
j.
Pola nilai dan kepercayaan
k.
Latihan
2.
DIAGNOSIS
KEPERAWATAN
Kesiapan peningkatan religiusitas
3.
INTERVENSI
KEPERAWATAN
Berikan informasi singkat mengenai pengajaran / cara
meditasi
Bantu klien mengidentifikasi ruangan dalam rumah yang
tenang dan mempunyai gangguan minimal
Jelaskan bahwa musik yang tenang dan bunyi yang mendesing dapat
mengganggu meditasi
Ajarkan langkah-langkah meditasi, duduk dalam posisi yang
nyaman dengan punggung lurus; bernafas perlahan; dan fokus pada suara, doa atau
gambar
Anjurkan pasien untuk melakukan meditasi selama 10-20 menit
dua kali sehari
Jawab pertanyaan klien dan perkuat informasi selama
diperlukan
F.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Chapman, L. S. 1997. Spiritual health: A
component missing from health promotion. American Journal of Health Promotion,
1(1), 38-41.
2.
Craven, R.F., Hirnle, C.J. 2007. Fundamental
of nursing: Human health and function.Third edition. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins.
Crisp, J. Taylor, C., Potter, P.A., & Perry, A. G. (2001). Fundamental of Nursing, Singapore: Mosby
Crisp, J. Taylor, C., Potter, P.A., & Perry, A. G. (2001). Fundamental of Nursing, Singapore: Mosby
3.
Danah Zohar. (2000). Spiritual Intelligence
The Ultimate Intelligence:Great Britain
Daniel G,.( 1999). Emotional Intelligence, Jakarta.: gramdia, Pustaka Utama
Dombeck. 1995. Spiritual Nursing. Lowa ; University of Lowa
Daniel G,.( 1999). Emotional Intelligence, Jakarta.: gramdia, Pustaka Utama
Dombeck. 1995. Spiritual Nursing. Lowa ; University of Lowa
4.
Dorlan. (1995). Dorland’s Pocket Medical
Dictionary. Twenty Fifth Edition. Philadelphia : W.B Saunders Company
5.
Fortune, Karen Lee. 2003. Mental Health
Nursing 5 th ed. Pearson education, inc. BAB 2.
6.
Greer, J., and Moberg, D. O. 1998. Research
in the social scientific study of religion. Greenwich, CT: Jai Press.
7.
Haber j.dkk. 3 nd.(1987). Comprehensive
Psychiatric Nursing. New York: Mc Graw-Hill Book Company.
8.
Hungelman. 1985. Spiritual concept nursing
care. Three edition. Philadelphia : lippincot williams & wilkins
9.
Hinchliff, Sue.(1997).Kamus Keperawatan.
Alih bahasa oleh dr.Andry Hartono.Jakarta: EGC
10.
Kozier, B. Erb, G Berman A.J . (1995).
Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Fifth Edition.
California : Addison-Wesley Publishing Company.
11.
Kozier, Erb. Berman. Snyder. (2004).
Fudamental of nursing: Concepts, process, and practice. Seventh Edition. New
Jersey : Pearson Education. Inc.
12.
Mauk, K & Schmidt, N. (2004). Spiritual
Care in Nursing Practice. Philadelpia: Lippincott.
13.
Murray, R. B., and Zentner, J. P. 1993.
Nursing concepts for health promotion (5th ed). Englewood Cliffs, NJ: Preventice-Hall.
14.
New Webster’s Dictionary: Of the English
Language.(1981). New York: Delair Publishing Company Inc.
15.
Potter, P.A & Perry, A.G.(2005).
Fundamental Of Nrsing: Concepts, Process, and Practice. Eds 4. Jakarta: EGC
16.
Potter, P.A. and Perry, A.G. (2005).
Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Sixth Edition. St.
Louis : Mosby.
17.
Rawlins, R & Heacock. (1993). Clinical
Manual of Pshyciatric Nursing. 2nd Ed. St. Louis: Mosby Year Book.
18.
Ruffling-Rahal, M. A. 1984. The spiritual
dimension of well-being: Implications for the elderly. Home Health Nurse, 2,
12-16.
19.
Sellers, S. C., and Haag, B. A. 1998.
Spiritual nursing interventions. Journal of Nursing, 16(3), 338-354.
Apakah ada rasional dari intervensi keperawatannya?
BalasHapusTerima kasih.
ada , tapi kebetulan tidak saya lampirkan dalam blog ini terimakasih .
BalasHapus