Langsung ke konten utama

LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN PERSEPSI ATAU KOGNISI



LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN PERSEPSI ATAU KOGNISI

A.      DEFINISI
Sensori adalah stimulus atau rangsangan yang datang dari dalam maupun luar tubuh. Stimulus tersebut masuk ke dalam tubuh melalui organ sensori ( panca indera). Stimulus yang sempurna memungkinkan seseorang untuk belajar berfungsi secara sehat dan berkembang dengan normal. Sensori terdiri dari 4 komponen penting yaitu stimulus, reseptor,  konduksi, dan persepsi.
Proses sensorik adalah kemampuan untuk memproses atau mengorganisasikan input sensorik yang diterima. Biasanya proses ini terjadi secara otomatis, misalnya ketika mendengar suara kicauan burung, otak langsung menterjemahkan sebagai bahasa atau suara binatang.  

B.       PATOFISIOLOGI
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada persepsi seseorang salah satunya adanya penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran dapat disebabkan salah satunya karena adanya penurunan aliran darah yang menuju keotak, saat itu otak akan menekan daerah hemisfer yang berfungsi untuk mempersepsikan stimulus sehingga implus yang dihantarkan tidak dapat sampai ke reseptor sehingga indra tidak dapat mempersepsikan stimulus.
C.      JENIS-JENIS  GANGGUAN PERSEPSI SENSORI
1.         Defisit Sensori.
Adalah suatu kerusakan dalam fungsi normal penerimaan dan persepsi sensori. Individu tidak mampu menerima stimulus tertentu ( misalnya kebutaan atau tuli ), atau stimulus menjadi distorsi ( misalnya penglihatan kabur karena katarak ). Kehilangan sensori secara tiba-tiba dapat menyebabkan ketakutan, marah, dan perasaan tidak berdaya. Apabila indera rusak maka perasaan terhadap diri juga rusak . Pada awalnya individu bersikap menarik diri dengan menghindari komunikasi atau sosialisasi dengan orang lain dalam suatu usaha untuk mengatasi kehilangan sensori.
Klien yang mengalami deficit sensori dapat mengubah perilaku dalam cara-cara yang adaptif atau maladaptif. Sebagai contoh, seorang klien yang mengalami kerusakan pendengaran dapat memutar telinga yang tidak terganggu kearah pembicara untuk mendengar dengan lebih baik, sementara klien lain mungkin menghidar dari orang lain untuk menghidari malu karena tidak mampu memahami pembicaraan mereka.
Contoh defisit sensori umum :
a.         Visual : presbiopi, katarak, glaukoma
b.        Pendengaran : presbikusis, otitis eksternal
c.         Neurologis : stroke, neuropati perifer.

2.         Deprivasi Sensori.
Sistem pengaktivasi reticular dalam batang otak menyebabkan semua stimulus sensori ke korteks serebral, sehingga meskipun saat tidur yang nyenyak, klien mampu menerima stimulus. Stimulasi sensori harus cukup kualitas dan kuantitasnya untuk mempertahankan kesadaran sesorang. Deprivasi sensori yang paling bermakna dialami klien yang melaporkan kurangnya sentuhan manusiawi.  Jika seseorang mengalami suatu stimulasi yang tidak adekuat kualitas dan kuantitasnya seperti stimulus yang monoton atau tidak bermakna maka akan terjadi deprivasi sensori.
Tiga jenis deprivasi sensori adalah :
a.       kurangnya input sensori ( karena kehilangan penglihatan dan pendengaran )
b.      Eliminasi perintah atau makna dari input ( misal terpapar pada lingkungan asing )
c.       Restriksi dari lingkungan ( misalnya tirah baring atau berkuranya variasi lingkungan ) yang menyebabkan monoton dan kebosanan
Individu yang beresiko terjadi deprivasi sensori umumnya tinggal di ruang terbatas pada perawatan dirumah. Meskipun panti keperawatn berkualitas menawarkan stimulasii yang bermakna melalui aktivitas kelompok, mengatur lingkungan, dan berkumpul saat waktu makan, terdapat pengecualian. Lansia yang terbatas dikursi roda, menderita dari pendengaran atau penglihatan yang buruk, mengalami penurunan tenaga, dan menghindari kontak dengan orang lain berada pada resiko yang bermakna untuk depivasi sensori.
Efek dari deprivasi sensori adalah :
a.       Kognitif : Penurunan kapasitas belajar, ketidakmampuan berpikir atau menyelesaikan masalah, penampilan tugas buruk, disorientasi, berpikir aneh, regresi,
b.      Afektif : Kebosanan, kelelahan, peningkatan kecemasan, kelabilan emosi, dan peningkatan kebutuhan untuk stimulasi fisik.
c.       Persepsi : Disorganisasi persepsi terjadi pada koordinasi visual, motorik, persepsi warna, pergerakan nyata, keakuratan taktil, kemampuan untuk mempersepsikan ukiran dan bentuk, penilaian mengenai ruang dan waktu
Tanda klinis deprivasi sensori :
a.         Mengunyah dalam tidur
b.        Perhatian menurun, sulit konsentrasi, penurunan dalam penyelesaian masalah
c.         Kerusakan memori
d.        Periode disorientasi, kebingungan yang tiba-tiba atau menetap
e.         Palpitasi
f.         Halusinasi atau delusi
g.        Menangis, depresi, sensitif
h.        Apatis, emosi labil.

3.      Beban Sensori yang berlebihan.
Adalah suatu kondisi dimana individu menerima banyak stimulus sensori dan tidak dapat secara perceptual tidak menghiraukan beberapa stimulus. Pada kondisi ini stimulus sensori yang berlebihan  dapat mencegah otak untuk berespon secara tepat atau mengabaikan stimulus tertentu. Kerena banyak stimulus mengarah pada kelebihan sensori sehingga individu tidak lagi mempersepsikan lingkungan secara rasional. Kelebihan sensori mencegah respon yang bermakna oleh otak, menyebabkan pikiran seseorang berpacu, perhatian bergerak pada banyak arah dan menjadi lelah. Akibatnya, beban sensori yang berlebihan menyebabkan suatu keadaan yang mirip dengan deprivasi sensori. Akan tetapi kebalikan dari deprivasi , kelebihan sensori adalah individual. Jumlah stimulus yang dibutuhkan untuk berfungsi sehat bervariasi setiap individu. Toleransi seseorang pada beban sensori yang berlebihan dapat bervariasi oleh tingkat kelelahan, sikap, dan kesehatan emosional dan fisik.
Perubahan perilaku yang berhubungan dengan beban sensori yang berlebihan dapat dengan mudah menjadi bingung atau disorientasi sederhana. Perawat harus mencari gejala seperti pikiran yang terpacu, perhatian yang terkotak-kotak, lelah dan cemas. Kien perawatan intensif kadang-kadang berusaha memainkan selang dan balutan secara konstan. Reorientasi yang konstan dan kontrol stimulus yang berlebihan menjadi suatu bagian yang penting dari perawatan klien.
Beban sensori berlebihan terjadi karena tiga faktor :
a.         Peningkatan kualitas atau kuntitas stimulus internal, Contoh : nyeri, dyspnea, cemas
b.        Peningkatan kualitas atau kuantitas stimulus eksternal, Contoh : ruangan yang ribut terlalu ramai pengunjung
c.         Stimulus terabaikan secara selektif akibat kerusakan sistem saraf.
Tanda klinis beban sensori yang berlebihan
a.       Mengeluh lelah dan kurang tidur
b.      Mudah tersinggung dan kurang istirahat
c.       Disorientasi
d.      Kemampuan pemecahan masalah dan penampilan tugas berkurang
e.       Ketegangan otot meningkat
f.       Perhatian berubah

D.      FAKTOR –FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GANGGUAN PERSEPSI SENSORI
1.         Usia
a.        Bayi tidak mampu membedakan stimulus sensori. Jalur sarafnya masih belum matang.
b.      Remaja : perubahan gaya hidup dan cara-cara yang tidak baik dalam gaya hidup akan menyumbangkan 40% kejadian miopi pada remaja.
c.       Dewasa : pada usia 40 - 50 tahun Pengelihatan berubah selama usia dewasa mencakup presbiopi  (ketidak mampuan memfokuskan pada objek dekat). Dan pada usia 30 tahun indera pendengaran memasuki tahap dimana mengalami penurunan ketajaman pendengaran, kejelasan bicaram dan ambang pendeengaran
d.      Lansia : mengalami  kesulitan membedakan konsonal (F,S,TH, CH). Suara bicara bergetar, dan terdapat perpanjangan persepsi dan reaksi bicra. Perubahan gustatori dan olfaktori mencakup penurunan dalam jumlah ujung saraf pengecap dalam tahun terakhir dan penurunan serabut saraf olfaktori pd usia 50. Penurunan diskriminasi rasa dan sensifitas terhadapbau adalah umum. Proprioseptif berubah setelah usia 60 termasuk kesulitan dengan keseimbangan, orientasi mengenal tempat, dan koordinasi. Lansia mengalami perubahan laktil, termasuk perubahan sensitivitas terhadapnyeri, tekanan, dan suhu.
2.      Medikasi
Beberapa anti biotika (misalnya : streptomosin dan gentamisin) adalah ototoksik dan secara permanen dapat merusak saraf pendengaran ;  kloramfenikol dapat mengiritasi saraf optik. Obat-obat analgesic narkotik, sedative, dan anti depresan dapat mengubah persepsi stimulus.
3.      Lingkungan
Stimulus lingkungan yang berlebihan (misalnya : peralatan yang bisik dan percakapan staf didalam unit perawatan intensif ) dapat menghasilkan beban sensori yanga berlebihan, ditandai dengan kebingungan, disorientasi, dan ketidak mampuan membuat keputusan. Stimulus lingkungan yang terbatas (misalnya : dengan isolasi) dapat mengarah kepada deprivasi sensori. Kualitas lingkungan yang buruk (misalnya penerangan yang buruk, lorong yang sempit, latar belakang yang bising ) dapat memperburuk kerusakan sensori.
4.      Tingkat Kenyamanan
Nyeri dan kelelahan mengubah cara seseorang berpersepsi dan bereaksi terhadap stimulus.

5.      Penyakit yang Ada Sebelumnya
Penyakit vascular perifer dapat menyebabkan penurunan sensasi pada ektremitas dan kerusakan kognisi. Diabetes kronik dapat mengarah pada penurunan pengelihatan, kebutaan atau neuropati perifer. Stroke sering menimbulkan kehilangan kemampuan bicara. Beberapa kerusakn neurologi dapat merusak fungsi motorik dan penerimaan sensori.
6.      Merokok
Pengunaan tembakau yang kronik dapat menyebabkan atropi ujung-ujung saraf pengecap, mengurang persepsi rasa. 
7.      Tingkat  kebisingan (Pendengaran)
Pemaparan yang konstan pada tingkat kebisinagn yang tinggi (misalnya pada lokasi pekerjaan konstruksi) dapat menyebabkan kehilangan pendengaran.
8.      Intubasi endotrakea
Kehilangan kemampuan bicara sementara akibat pemasukan selang endotrakea melalui mulut atau hidung kedalam trakea.



E.       PATHWAY

 
                                                                           

F.       PENGKAJIAN
1.      Anamnesa
a.       Identitas diri
b.      Riwayat penyakit dulu
c.       Riwayat penyakit dari keluarga
d.      Pengkajian fisik (head to toe)
e.      Vital sign
2.      11 pola gordon
a.       Pola persepsi dan manajemen kesehatan
b.      Pola nutrisi
c.       Pola eliminasi
d.      Pola katifitas dan latihan
e.      Pola persepsi dan konsep diri
f.        Pola istirahat dan tidur
g.       Pola peran dan hubungan
h.      Pola seksual dan reproduksi
i.         Pola stress dan koping
j.        Pola nilai dan kepercayaan
k.       Latihan
3.      Pengajian indera persepsi sensori

G.      DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan transmisi implus

H.      INTERVENSI KEPERAWATAN
a.       Intervensi mandiri
O : Monitor vital sign, PaCo2 , monitor PT dan PTT, monitor CPP
N : cek auskultasi dari paru
E : anjurkan untuk keluarga tetap mengajak pasien berbicara, walaupun dalam keadaan koma, dan anjurkan keluarga untuk tetap memohon kesembuhan kepada Allah SWT

b.      Intervensi kolaborasi
C: kolaborasi untuk pemberian obat2 seperti koagulan , vasopressor, antiptelet, dll
Kolaborasi dengan fisioterapi untuk membantu rehabilitasi adanya kebutuhan pada sensori pasien.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOP pemasangan NGT dan Perawatan NGT

Pemasangan NGT, Perawatan NGT 1.       Persiapan Alat ü   NGT sesuai dengan ukuran klien ü   Pinset Anatomis ü   Spuit ü   Bengkok ü   Jelly ü   Plester ü   Perban ü   Stetoskop ü   Sarung Tangan 2.       Tahap Pra Interaksi ü   Verifikasi Order : akan melakukan pemasangan kateter pada Ibu R ü   Siapkan ala-alat ü   Bersiap bertemu dengan klien 3.       Tahap Orientasi ü   Memperkenalkan diri §   (“Permisi Ibu, perkenalkan saya perawat Neza yang hari ini berjaga dibangsal ini dari pukul 08.00 hingga puku 14.00 siang nanti, benar ini dengan   Ibu R?” Ohh.. benar yah ini dengan Ibu R”) ü   Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan pada klien §   (“Ibu, saya kesini tujuannya yaitu akan melakukan pemasangan selang dihidung ibu agar kebutuhan nutrisi ibu tetap terpenuhi, kegiatan ini aka...

SOP Bladder Training

Bladder Training 1.       Persiapan Alat ü   Klem kateter/ klem arteri ü   Penampung urin (pispot) ü   Alat pelindung diri (APD) 2.       Tahap Pra Interaksi ü   Verifikasi order : akan melakukan bladder training pada klien Ibu M. ü   Siapkan alat-alat ü   Siap bertemu dengan klien 3.       Tahap Orientasi ü   Berikan salam, panggil klien dengan nama serta memperkenalkan diri (“permisi Ibu< benar ini dengan Ibu M? oiyah baiklah ibu, perkenalkan ibu saya perawat Neza yang hari ini bertugas hari ini dari pukul 08.00 hingga pukul 14.00 siang nanti”) ü   Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien dan keluarga (“Ibu , tujuan saya kesini yaitu akan melakukan bladder training, maksudnya yaitu ibu sedang terpasang selang pipis jadi agar ibu tidak terlalu bergantung dengan selang pipis maka akan saya latih pelan-pelan agar mampu nanti ny...

Laporan Pendahuluan Kebutuhan aman dan Nyaman :Nyeri Akut

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN KEBUTUHAN AMAN DAN NYAMAN : NYERI AKUT A.       DEFINISI Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan, yang bersifat subyektif, yang diakibatkan oleh kerusakan jaringan dan potensial kerusakan (Internasional Assosiation for the Study of Pain [IASP], 2012). Nyeri bersifat sangat individual yang dipengaruhi aspek biologi, sosial, dan spiritual. Sedangkan menurut NANDA Nursing Diagnosis (2011), nyeri adalah ketidaknyamanan sendori dan pengalaman emosional disebabkan adanya kerusakan jaringan secara aktual maupun potensial. Secara umum, nyeri dikategorikan menjadi nyeri akut dan nyeri kronik. Menurut NANDA (2011) nyeri akut adalah nyeri kurang dari 6 bulan dan nyeri Kronis adalah nyeri dengan durasi lebih dari 6 bulan. Pengkategorian tersebut sesuai dengan Smeltzer dan Barae (2010) bahwa nyeri dinyatakan kronis jika telah timbul selama 6 bulan atau lebih, terlalu lama untuk mengungkapkan bahwa ...