LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN NUTRISI DAN METABOLISME
GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM BASA
A.
DEFINISI
Nutrisi adalah zat-zat gizi dan zat lain yang berhubungan
dengan kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses proses dalam tubuh
manusia untuk menerima makanan atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan
menggunakan bahan-bahan tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuhnya serta
mengeluarkan sisanya. Nutrisi dapat dikatakan sebagai ilmu tentang makanan,
zat-zat gizi dan zat lain yang terkandung, aksi reaksi dan keseimbangan yang
berhubungan dengan kesehatan dan penyakit. ( Wartonah, 2010 : Tarwoto
& Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan. Edisi
4. Salemba Medika : Jakarta).
Tubuh memerlukan bahan bakar untuk menyediakan energi untuk
fungsi organ dan pergerakan badan, untuk menyediakan material mentah, untuk
fungsi enzim, pertumbuhan, penempatan kembali dan perbaikan sel. Metabolisme
mengacu pada semua reaksi biokimia dalm tubuh. Proses metabolic dapat menjadi
anabolic (membangun) atau katabolic (merusak). Energy adalah kekuatan untuk
bekerja, manusia membutuhkan energy untuk terus menerus berhubungan dengan
lingkungannya.
B.
PATOFISIOLOGI
Stressor
merupakan sumber stres atau penyebab stres, beberapa penyebab stres diantaranya
perkawinan, masalah orang tua, pekerjaan, keluarga, dan penyakit fisik. Bila
individu mampu menggunakan cara-cara penyesuaian diri yang sehat dengan stres
yang dihadapi, meskipun stres atau tekanan tersebut tetap ada, individu yang
bersangkutan tetaplah dapat hidup secara sehat. Bahkan tekanan- tekanan
tersebut akhirnya justru akan memungkinkan individu untuk memunculkan
potensi-potensi manusiawinya dengan optimal.
Penyesuaian
diri dalam menghadapi stres, dalam konsep kesehatan mental dikenal dengan
istilah koping. Koping juga dimaknai
sebagai apa yang dilakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan, luka,
kehilangan, atau ancaman. (Yosep, 2007).
Dari beberapa penjelasan diatas dapat dihubungkan antara stressor,
stres, dan koping. Stres merupakan respon yang muncul karena terjadinya tekanan
yang disebut dengan stressor, ketika seseorang mengalami stres karena stressor
yang didapatkan maka diperlukan koping
untuk menghadapi stres tersebut.
C.
JENIS-JENIS
GANGGUAN NUTRISI DAN METABOLISME
Secara umum, gangguan kebutuhan nutrisi terdiri atas
kekeurangan dan kelebihan nutrisi, obesitas, malnutrisi, Diabetes Melitus,
Hipertensi, Jantung Koroner, Kanker, Anoreksia Nervosa, berikut penjelasannya :
1.
Kekurangan nutrisi
Kekurangan
nutrisi merupakan keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan tidak berpuasa
(normal) atau resiko penurunan berat badan akibat ketidakmampuan asupan nutrisi
untuk kebutuhan metabolisme.
Tanda klinis :
a.
Berat badan 10-20%
dibawah normal
b.
Tinggi badan
dibawah ideal
c.
Lingkar kulit
triseps lengan tengah kurang dari 60% ukuran standar
d.
Adanya kelemahan
dan nyeri tekan pada otot
e.
Adanya penurunan
albumin serum •
f.
Adanya penurunan
transferin
Kemungkinan
penyebab:
a.
Meningkatnya
kebutuhan kalori dan kesulitan dalam mencerna kalori akibat penyakit infeksi
atau kanker.
b.
Disfagia karena
adanya kelainan persarafan
c.
Penurunan absorbsi
nutrisi akibat penyakit crohn atau intoleransi laktosa
d.
Nafsu makan menurun
2.
Kelebihan nutrisi
Kelebihan
nutrisi merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang yang mempunyai resiko
peningkatan berat badan akibat asupan kebutuhan metabolisme secara berlebihan.
Tanda klinis :
a.
Berat badan lebih
dari 10% berat ideal
b.
Obesitas (lebih
dari 20 % berat ideal)
c.
Lipatan kulit
trisep lebih dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita
d. Adanya
jumlah asupan berlebihan aktivitas menurun atau monoton.
Kemungkinan penyebab : • Perubahan pola makan • Penurunan
fungsi pengecapan dan penciuman.
3.
Obesitas
Obesitas merupakan masalah
peningkatan berat badan yang mencapai lebih dari 20% berat badan normal. Status
nutrisinya adalah melebihi kebutuhan asupan kalori dan penurunan dalam
penggunaan kalori.
4.
Malnutrisi
Malnutrisi merupakan masalah
yang berhubungan dengan kekurangan zat gizi pada tingkat seluler atau dapat
dikatakan sebagai masalah asupan zat gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan
tubuh. Gejala umumnya adalah berat badan rendah dengan asupan makanan yang
cukup atau asupan kurang dari kebutuhan tubuh, adanya kelemahan otot dan
penurunan energi, pucat pada kulit, membrane mukosa, konjungtiva dan lain-
lain.
5.
Diabetes mellitus
Diabetes melitus (DM) adalah
hiperglikemia yang disebabkan oleh kurangnya pembentukan insulin atau
resistensi jaringan perifer terhadap insulin. (Sangkan Paran, 2008). Diabetes
sendiri dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a. Diabetes
tipe 1 ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas. Kombinasi faktor
genetik, imunologi dan mungkin pula lingkungan (misalnya, infeksi virus)
diperkirakan menimbulkan destruksi sel beta.
b. Mekanisme
yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin
pada diabetes tipe II masih belum
diketahui. Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya
resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor risiko tertentu yang
berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe II. Faktor-faktor ini
adalah:
1) Usia
(resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
2) Obesitas
3) Riwayat
keluarga
4) Kelompok
etnik (di Amerika Serikat, golongan Hispanik serta penduduk asli Amerika
tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe
II dibandingkan dengan golongan Afro-Amerika).
6.
Hipertensi
Hipertensi merupakan gangguan
nutrisi yang juga disebabkan oleh berbagai masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi
seperti penyebab dari adanya obesitas, serta asupan kalsium, natrium, dan gaya
hidup yang berlebihan.
7.
Penyakit jantung
koroner
Penyakit jantung koroner
merupakan gangguan nutrisi yang sering disebabkan oleh adanya peningkatan
kolesterol darah dan merokok. Saat ini, penyakit jantung koroner sering dialami
karena adanya perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat, obesitas dan
lain-lain.
8.
Kanker
Kanker merupakan gangguan
kebutuhan nutrisi yang disebabkan oleh pengonsumsian lemak secara berlebihan.
D.
FAKTOR –FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEBUTUHAN NUTRISI
1. Pengetahuan
Pengetahuan yang
kurang tentang manfaat makanan bergizi dapat mempengaruhi pola konsusmsi makan.
Hal tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya informasi sehingga dapat terjadi
kesalahan dalam memahami kebutuhan gizi.
2. Usia
Pada usia 0-10
tahun kebutuhan metabolisme basa bertambah dengan cepat hal ini sehubungan
dengan factor pertumbuhan dan perkembangan yang cepat pada usia tersebut.
Setelah usia 20 tahun energy basal relative konstan.
3. Jenis
kelamin
Kebutuhan
metabolisme basal pada laki-laki lebih besar di bandingkan dengan wanita pada laki-laki
kebutuhan BMR 1,0 kkal/kg BB/jam dan pada wanita 0,9 kkal/kgBB/jam.
4. Tinggi
dan berat badan
Tinggi dan berat
badan berpaengaruh terhadap luas permukaan tubuh, semakin luas permukaan tubuh
maka semakin besar pengeluaran panas sehingga kebutuhan metabolisme basal tubuh
juga menjadi lebih besar.
5. Ekonomi
Status ekonomi
dapat mempengaruhi perubahan status gizi karena penyediaan makanan bergizi
membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Oleh karena itu, masyarakat dengan
kondisi perekonomian tinggi biasanya mampu mencukupi kebutuhan gizi keluarganya
dibandingkan masyarakat dengan kondisi perekonomian rendah.
6. Status
kesehatan
Nafsu makan yang
baik adalah tanda yang sehat . Anoreksia (kurang nafsu makan) biasanya gejala
penyakit atau karena efek samping obat.
7. Faktor
Psikologis serti stress dan ketegangan
Motivasi individu
untuk makan makanan yang seimbang dan persepsi individu tentang diet merupakan
pengaruh yang kuat. Makanan mempunyai nilai simbolik yang kuat bagi banyak
orang (mis. Susu menyimbolkan kelemahan dan daging menyimbulkan kekuatan).
8. Alkohol
dan Obat
Penggunaan alcohol dan
obat yang berlebihan memberi kontribusi pada defisiensi nutrisi karena uang
mungkin dibelajakan untuk alcohol daripada makanan. Alcohol yang berlebihan
juga mempengaruhi organ gastrointestinal. Obat-obatan yang menekan nafsu makan
dapat menurunkan asupan zat gizi esensial. Obat-obatan juga menghabiskan zat
gizi yang tersimpan dan mengurangi absorpsi zat gizi di dalam intestine.
9.
PATHWAY
10.
PENGKAJIAN
1. Anamnesa
a.
Identitas diri
b.
Riwayat penyakit dulu
c.
Riwayat penyakit dari keluarga
d.
Pengkajian fisik (head to toe)
e.
Vital sign
2. 11
pola gordon
a.
Pola persepsi dan manajemen kesehatan
b.
Pola nutrisi
c.
Pola eliminasi
d.
Pola katifitas dan latihan
e.
Pola persepsi dan konsep diri
f.
Pola istirahat dan tidur
g.
Pola peran dan hubungan
h.
Pola seksual dan reproduksi
i.
Pola stress dan koping
j.
Pola nilai dan kepercayaan
k.
Latihan
3. Faktor
pencetus, faktor pemicu stress
4. Mekanisme
koping
5. Penilaian
respon terhadap stress
6. Sumber
koping
11.
DIAGNOSIS
KEPERAWATAN
Ketidakseimbangan elektrolit b/d gangguan metabolisme regulasi (diabetes
melitus)
12.
INTERVENSI
KEPERAWATAN
a.
Intervensi mandiri
O : monitor intake dan outake makanan serta minuman
Monitor pemeriksaan
laboratorium seperti kalium, natrium, klorida, dan magnesium
N : lakukan balance cairan, pertahankan
posisi klien untuk memaksimalkan ventilasi, pertahankan infus.
E : jelaskan tentang managemen diabetes melitus dan cara menyeimbangakan
kadar basa dan asam dalam tubuh.
b.
Intervensi kolaborasi
C: kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat untuk menyembangkan
kadang asam dan basa tubuh.
Kolaborasi dengan diit untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit.
kunjungi blogku ya
BalasHapusmyknownhealth1.blogspot.com
BalasHapus