Langsung ke konten utama

Laporan Pendahuluan Kebutuhan Dasar Manusia tentang Pola Koping dan Stress



LAPORAN PENDAHULUAN
POLA STRESS DAN KOPING

A.      DEFINISI
Konsep stres pertama kali diperkenalkan oleh Hans Selye, seorang ahli fisiologi Kanada pada tahun 1936, melalui penelitianya yang menganalisis hubungan rangsang lingkungan dan kesehatan dengan melacak reaksi-reaksi hormonal berantai yang rumit sebagai akibat adanya tekanan emosi yang berlebihan pada seseorang. Tekanan emosional yang berkelanjutan dapat menyebabkan kematian (Subowo, 1993:80).
Stres adalah suatu kondisi dinamis dimana individu dihadapkan dengan suatu kesempatan , kendala atau permintaan yang berhubungan dengan apa yang ia inginkan dan untuk hasil yang mana dirasakan menjadi tak pasti dan penting. Yang dapat dilihat dari gejala yang ditimbulkan baik dari aspef fisiologis, psikologis dan tingkah laku.(Rabbin, Stephen P, 1993). Stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang (Handoko , 1985). Menurut Robins (1996), stresss adalah kondisi dinamik yang mana seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala (constraints) atau tuntutan (demands) yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkan dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan penting. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. 
Sehingga penulis dapat menyimpulkan stress adalah sebuah kondisi dimana individu tidak mampu mengkompromikan tekananan yang ada dilingkungan luar maupun dalam yang dapat berdampak pada tubuhnya.
Sedangkan koping adalah tindakan yang di lakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan/luka/kehilangan/ ancaman. Jadi koping lebih mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang penuh tekanan atau yang membangkitkan emosi. Atau dengan kata lain, koping adalah bagaimana reaksi orang ketika menghadapi stress/tekanan. Selain itu koping juga menurut para ahli adlah tindakan alami yang dilakukan oleh seorang individu untuk mempertahankan diri dalam menghadapi stressor dari luar (Siswanto,2007).
Pertambahan jumlah lansia di Indonesia, dalam kurun waktu tahun 1990-2005, tergolong tercepat di dunia. Jumlah sekarang 16 juta dan akan menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau sebesar 11,37 % penduduk dan merupakan peringkat ke 4 dunia, dibawah Cina, India dan Amerika Serikat. Sedangkan umur harapan hidup berdasarkan sensus BPS 1998 adalah 63 tahun untuk pria dan 67 tahun untuk perempuan. Usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata adalah 59,7 tahun dan menempati urutan ke 103 dunia, nomor satunya adalah Jepang dengan usia harapan hidup rata-rata 74,5 tahu (Hurlock, 1980:44).
 Menurut Subowo (1993:80), sekitar 70 persen lanjut usia di Jawa Timur diduga stress. Pemicunya adalah faktor eksternal seperti masalah keuangan dan perhatian keluarga. Para lansia diduga mengalami stress karena tidak mempunyai jaminan uang pension dan tidak mendapatkan perhatian dari keluarga. Ia mengharapkan masalah ini segera diatasi, karena stress dalam jangka panjang juga dapat memicu terjangkitnya penyakit diantaranya gangguan pendengaran atau penglihatan, ujarnya. Akan tetapi, sebenarnya jika lansia itu diperhatikan oleh sanak keluarganya ataupun pemerintah maka kemungkinan mengalami stress sangat kecil.
Meningkatnya tuntutan dan kebutuhan hidup akan sesuatu yang lebih baik, menyebabkan individu berlomba untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkanya. Akan tetepi pada kenyatannya sesuatu yang diinginkan tersebut, kadangkala tidak dapat tercapai sehingga dapat menyebabkan individu tersebut bingung, melamun dan akhirnya stress. Stres yang terjadi pada setiap individu berbeda beda tergantung pada masalah yang dihadapi dan kemampuan menyelesaikan masalah tersebut atau biasa disebut dengan mekanisme koping. Jika masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik maka individu tersebut akan senang, tapi sebaliknya akan menjadi cepat marah marah, frustasi bahkan akan depresi (Suryani, 2005:81).

B.       PATOFISIOLOGI
Stressor merupakan sumber stres atau penyebab stres, beberapa penyebab stres diantaranya perkawinan, masalah orang tua, pekerjaan, keluarga, dan penyakit fisik. Bila individu mampu menggunakan cara-cara penyesuaian diri yang sehat dengan stres yang dihadapi, meskipun stres atau tekanan tersebut tetap ada, individu yang bersangkutan tetaplah dapat hidup secara sehat. Bahkan tekanan- tekanan tersebut akhirnya justru akan memungkinkan individu untuk memunculkan potensi-potensi manusiawinya dengan optimal.
Penyesuaian diri dalam menghadapi stres, dalam konsep kesehatan mental dikenal dengan istilah koping. Koping juga  dimaknai sebagai apa yang dilakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang  dinilai sebagai suatu tantangan, luka, kehilangan, atau ancaman. (Yosep, 2007).  Dari beberapa penjelasan diatas dapat dihubungkan antara stressor, stres, dan koping. Stres merupakan respon yang muncul karena terjadinya tekanan yang disebut dengan stressor, ketika seseorang mengalami stres karena stressor yang  didapatkan maka diperlukan koping untuk menghadapi stres tersebut.

C.      JENIS-JENIS  STRESS DAN POLA KOPING 
1.      Jenis-jenis stress
a.       Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
b.      Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian. (Quick, 1984)
2.      Jenis-jenis pola atau mekanisme koping
Mekanisme koping menurut pada dasarnya adalah mekanisme pertahanan diri terhadap perubahan yang terjadi baik dari dalam maupun luar diri. Ada dua macam mekanisme koping yaitu:
a.       Adaptif adalah tingkah laku yang adaptif adalah suatu tindakan yang dapat menyesuaikan diri dan perilaku dengan konstruktif. Selain itu, individu tersebut lebih mampu bertahan dan menagantisipasi kemungkinan adanya bahaya. Selanjutnya, yang termasuk dalam mekanisme koping yang konstruktif adalah:
1)        Mekanisme koping konstruktif survivol digunakan untuk kelangsungan hidup dan berkaitan dengan suatu yang mengancam. Adapun yang merupakan tingkah laku , misalnya memeriksakan kesehatan secara berkala ke puskesmas.
2)         Mekanisme koping konstruktif  memotivasi digunakan untuk dapat memotivasi, misalnya apabila mempunyai masalah baru, bercerita kepada keluarga atau mempunyai masalah dengan kesehatan baru memeriksakan diri.
b.      Maladaptif adalah tingkah laku yang maladaptif, individu tidak dapat menyesuaikan diri sehingga cenderung muncul tingkah laku destruktif sehingga menyebabkan respon maladaptif. Respon maladaptif dapat timbul pada kecemasan berat dan panik. Adapun yang termasuk mekanisme koping maladaptif adalah koping destruktif, misalnya marah marah, mudah tersinggung, menyerang dan depresi. Adpun yng termasuk dalam mekanisme koping maladaptif adalah reaksi yang lambat atau berlebihan, menghindar, mencederai diri dan minum alkohol.

D.      FAKTOR –FAKTOR YANG DAPAT MENIMBULKAN STRESS
Menurut Robbins (2001:565-567) ada tiga sumber utama yang dapat menyebabkan timbulnya stress yaitu:
1.      Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan pengaruh pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat terhadap karyawan.
Dalam faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan stress bagi karyawan yaitu ekonomi, politik dan teknologi. Perubahan yang sangat cepat karena adanya penyesuaian terhadap ketiga hal tersebut membuat seseorang mengalami ancaman terkena stress. Hal ini dapat terjadi, misalnya perubahan teknologi yang begitu cepat. Perubahan yang baru terhadap teknologi akan membuat keahlian seseorang dan pengalamannya tidak terpakai karena hampir semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan cepat dan dalam waktu yang singkat dengan adanya teknologi yang digunakannya.



2.      Faktor Organisasi
Didalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan stress yaitu role demands, interpersonal demands, organizational structure dan organizational leadership.
Pengertian dari masing-masing faktor organisasi tersebut adalah sebagai berikut :
a.         Role Demands
Peraturan dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak jelas dalam suatu organisasi akan mempengaruhi peranan seorang karyawan untuk memberikan hasil akhir yang ingin dicapai bersama dalam suatu organisasi tersebut.
b.         Interpersonal Demands
Mendefinisikan tekanan yang diciptakan oleh karyawan lainnya dalam organisasi. Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara karyawan satu dengan karyawan lainnya akan dapat menyebabkan komunikasi yang tidak sehat. Sehingga pemenuhan kebutuhan dalam organisasi terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial akan menghambat perkembangan sikap dan pemikiran antara karyawan yang satu dengan karyawan lainnya.
c.         Organizational Structure
Mendefinisikan tingkat perbedaan dalam organisasi dimana keputusan tersebut dibuat dan jika terjadi ketidak jelasan dalam struktur pembuat keputusan atau peraturan maka akan dapat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dalam organisasi.
d.        Organizational Leadership
Berkaitan dengan peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan dalam suatu organisasi. Karakteristik pemimpin menurut The Michigan group (Robbins, 2001:316) dibagi dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih mengutamakan atau menekankan pada hubungan yang secara langsung antara pemimpin dengan karyawannya serta karakteristik pemimpin yang hanya mengutamakan atau menekankan pada hal pekerjaan saja.
3.      Faktor Individu
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan. Hubungan pribadi antara keluarga yang kurang baik akan menimbulkan akibat pada pekerjaan yang akan dilakukan karena akibat tersebut dapat terbawa dalam pekerjaan seseorang. Sedangkan masalah ekonomi tergantung dari bagaimana seseorang tersebut dapat menghasilkan penghasilan yang cukup bagi kebutuhan keluarga serta dapat menjalankan keuangan tersebut dengan seperlunya. Karakteristik pribadi dari keturunan bagi tiap individu yang dapat menimbulkan stress terletak pada watak dasar alami yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Sehingga untuk itu, gejala stress yang timbul pada tiap-tiap pekerjaan harus diatur dengan benar dalam kepribadian seseorang. Faktor individu ini dapat menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya stress antara lain :
a.       Stres Psikososial (Psychosocial Stress)
Stres psikososial adalah stress yang dipicu oleh hubungan relasi dengan orang lain di sekitarnya atau akibat situasi sosial lainnya. Contohnya seperti stres adaptasi lingkungan baru, masalah cinta, masalah keluarga, stres macet di jalan raya, diolok-olok, dan lain-lain. Stress psikososial ini muncul
b.      Stres Bioekologi (Bio-Ecological Stress)
Stres bio-ekologi adalah stress yang dipicu oleh dua hal. Yang pertama yaitu ekologi/lingkungan seperti polusi serta cuaca dan yang kedua akibat kondisi biologis seperti akibat datang bulan, demam, asma, jerawatan, tambah tua, dan banyak lagi akibat penyakit dan kondisi tubuh lainnya.
c.       Stres Pekerjaan (Job Stress)
Stres pekerjaan adalah stress yang dipicu oleh pekerjaan seseorang. Persaingan jabatan, tekanan pekerjaan, deadline, terlalu banyak kerjaan, ancaman phk, target tinggi, usaha gagal, persaingan bisnis, adalah beberapa hal umum yang dapat memicu munculnya stress akibat karir pekerjaan.


E.     PATHWAY

 

F.       PENGKAJIAN
1.      Anamnesa
a.       Identitas diri
b.      Riwayat penyakit dulu
c.       Riwayat penyakit dari keluarga
d.      Pengkajian fisik (head to toe)
e.      Vital sign
2.      11 pola gordon
a.       Pola persepsi dan manajemen kesehatan
b.      Pola nutrisi
c.       Pola eliminasi
d.      Pola katifitas dan latihan
e.      Pola persepsi dan konsep diri
f.        Pola istirahat dan tidur
g.       Pola peran dan hubungan
h.      Pola seksual dan reproduksi
i.         Pola stress dan koping
j.        Pola nilai dan kepercayaan
k.       Latihan
3.      Faktor pencetus, faktor pemicu stress
4.      Mekanisme koping
5.      Penilaian respon terhadap stress
6.      Sumber koping

G.      DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Pola Koping individu tidak efektif .

H.      INTERVENSI KEPERAWATAN
a.       Intervensi mandiri
O : kaji kemampuan individu untuk mengenal stressor dan menghadapinya, kaji sumber koping yang ada, kaji faktor penyebab dan pencetus.
N : bantu klien untuk mengenal masalah, bantu klien untuk menggunakan sumber koping yang ada.
E : ajarkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi untuk membuatnya lebih tenang, dan anjurkan untuk memohon dan berdoa kepada Allah SWT  

b.      Intervensi kolaborasi
C: kolaborasi dengan keluarga untuk membuat sumber koping yang adekuat.



I.       Daftar Pustaka
1.      Subowo.1993. Imunologi Klinik.Bandung: Angkasa bandung.
2.      Hawari, D.2002. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: gaya baru.
3.      Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Andi Sunaryo









Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOP pemasangan NGT dan Perawatan NGT

Pemasangan NGT, Perawatan NGT 1.       Persiapan Alat ü   NGT sesuai dengan ukuran klien ü   Pinset Anatomis ü   Spuit ü   Bengkok ü   Jelly ü   Plester ü   Perban ü   Stetoskop ü   Sarung Tangan 2.       Tahap Pra Interaksi ü   Verifikasi Order : akan melakukan pemasangan kateter pada Ibu R ü   Siapkan ala-alat ü   Bersiap bertemu dengan klien 3.       Tahap Orientasi ü   Memperkenalkan diri §   (“Permisi Ibu, perkenalkan saya perawat Neza yang hari ini berjaga dibangsal ini dari pukul 08.00 hingga puku 14.00 siang nanti, benar ini dengan   Ibu R?” Ohh.. benar yah ini dengan Ibu R”) ü   Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan pada klien §   (“Ibu, saya kesini tujuannya yaitu akan melakukan pemasangan selang dihidung ibu agar kebutuhan nutrisi ibu tetap terpenuhi, kegiatan ini aka...

SOP Bladder Training

Bladder Training 1.       Persiapan Alat ü   Klem kateter/ klem arteri ü   Penampung urin (pispot) ü   Alat pelindung diri (APD) 2.       Tahap Pra Interaksi ü   Verifikasi order : akan melakukan bladder training pada klien Ibu M. ü   Siapkan alat-alat ü   Siap bertemu dengan klien 3.       Tahap Orientasi ü   Berikan salam, panggil klien dengan nama serta memperkenalkan diri (“permisi Ibu< benar ini dengan Ibu M? oiyah baiklah ibu, perkenalkan ibu saya perawat Neza yang hari ini bertugas hari ini dari pukul 08.00 hingga pukul 14.00 siang nanti”) ü   Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien dan keluarga (“Ibu , tujuan saya kesini yaitu akan melakukan bladder training, maksudnya yaitu ibu sedang terpasang selang pipis jadi agar ibu tidak terlalu bergantung dengan selang pipis maka akan saya latih pelan-pelan agar mampu nanti ny...

Laporan Pendahuluan Kebutuhan aman dan Nyaman :Nyeri Akut

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN KEBUTUHAN AMAN DAN NYAMAN : NYERI AKUT A.       DEFINISI Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan, yang bersifat subyektif, yang diakibatkan oleh kerusakan jaringan dan potensial kerusakan (Internasional Assosiation for the Study of Pain [IASP], 2012). Nyeri bersifat sangat individual yang dipengaruhi aspek biologi, sosial, dan spiritual. Sedangkan menurut NANDA Nursing Diagnosis (2011), nyeri adalah ketidaknyamanan sendori dan pengalaman emosional disebabkan adanya kerusakan jaringan secara aktual maupun potensial. Secara umum, nyeri dikategorikan menjadi nyeri akut dan nyeri kronik. Menurut NANDA (2011) nyeri akut adalah nyeri kurang dari 6 bulan dan nyeri Kronis adalah nyeri dengan durasi lebih dari 6 bulan. Pengkategorian tersebut sesuai dengan Smeltzer dan Barae (2010) bahwa nyeri dinyatakan kronis jika telah timbul selama 6 bulan atau lebih, terlalu lama untuk mengungkapkan bahwa ...