LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN AKTIFITAS DAN ISTIRHAT : KETIDAKEFEKTIFAN POLA NAFAS
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN
GANGGUAN KEBUTUHAN
AKTIFITAS DAN ISTIRHAT : KETIDAKEFEKTIFAN POLA NAFAS
A.
Definisi Ketidakefektifan Pola Nafas
Ketidakefektifan pola napas adalah inspirasi
dan/atau ekspirasi yang tidak memberi ventilasi yang adekuat (Wilkinson, 2006).
Pola nafas tidak efektif adalah ventilasi atau pertukaran udara inspirasi dan
atau ekspirasi tidak adekuat. (Santoso, Budi.2006). dalam klasifikasinya
ketidakefektifan pola nafas dibagi menjadi sebagai berikut :
1.
Tachypnea, merupakan pernafasan yang memiliki frekuensi lebih dari 24
kali per menit. Proses ini terjadi karena paru-paru dalam keadaan atelektaksis
atau terjadinya emboli.
2.
Bradypnea, merupakan pola pernafasan yang lambat dan kurang dari 10
kali per menit. Pola ini dapat ditemukan dalam keadaan peningkatan tekanan
intrakarnial yang disertai narkotik atau sedatif.
3.
Hiperventilasi, merupakan cara tubuh dalam mengompensasi peningkatan jumlah
oksigen dalam paru-paru agar pernafasan lebih cepat dan dalam. Proses ini
ditandai dengan adanya peningkatan denyut nadi, nafas pendek, adanya nyeri
dada, menurunnya konsentrasi CO2, dan lain-lain. Keadaan demikian
dapat disebabkan oleh adanya infeksi, keseimbangan asam basa, atau gangguan
psikologis. Hiperventilasi dapat menyebabkan hipokapnea, yaitu berkurangnya CO2
tubuh di bawah batas normal, sehingga rangsangan terhadap pusat pernafasan
menurun.
4.
Kusmaul, merupakan pola cepat dan dangkal yang dapat ditemukan pada
orang dalam keadaan asidosis metabolik.
5.
Hipoventilasi, merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan karbondioksida
dengan cukup yang dilakukan pada saat ventilasi alveolar, serta tidak cukupnya
jumlah udara yang yang memasuki alveoli dalam penggunaan oksigen. Keadaan
demikian menyebabkan terjadinya hiperkapnea, yaitu retensi CO2 dalam
tubuh sehingga PaCO2 meningkat (akibat hipoventilasi) dan akhirnya
mengakibatkan depresi susunan saraf pusat.
6.
Dispnea, merupakan perasaan sesak dan berat saat pernafasan. Hal ini
dapat disebabkan oleh perubahan kadar gas dalam darah/jaringan, kerja
berat/berlebihan, dan pengaruh psikis.
7.
Ortopnea, merupakan kesulitan bernafas kecuali dalam posisi duduk
atau berdiri. Pola ini sering ditemukan pada seseorang yang mengalami kongestif
paru-paru.
8.
Cheyne stokes, merupakan siklus pernafasan yang amplitudonya mula-muula
naik, kemudian menurun dan berhenti, lalu pernafasan dimulai lagi dari siklus
baru.
9.
Pernafasan Paradoksial, pernafasan dimana dinding paru-paru
bergerak berlawanan arah dari keadaan normal.
10. Biot, merupakan pernafasan dengan irama
yang mirip dengan cheyne stokes, akan tetapi amplitudonya tidak
beraturan. Pola ini sering dijumpai pada pasien dengan radang selaput otak,
peningkatan tekanan intracranial, trauma kepala, dan lain-lain.
11. Stridor, merupakan pernafasan bising yang
terjadi karena penyempitan pada saluran pernafasan. Pola ini pada umumnya
ditemukan pada kasus spasme trakhea atau obstruksi laring.
B.
Patofisiologi Ketidakefektifan pola nafas
Ketidakefektifan pola nafas biasanya
berhubungan dengan kejadian penyakit asma atau dypnea. Asma adalah obstruksi
jalan napas difus reversibel. Obstruksi disebabkan oleh satu atau lebih dari
yang berikut ini :
1.
Kontraksi otot yang mengelilingi
bronki, yang menyempitkan jalan napas
2.
Pembengkakan membran yang melapisi
bronki.
3.
Pengisian bronki dengan mukus yang
kental.
Selain itu otot – otot bronkial dan
kelenjar mukosa membesar; sputum yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli
menjadi hiperinflasi, dengan udara terperangkap di dalam jaringan paru.
Mekanisme yang pasti dari perubahan ini tidak diketahui, tetapi apa yang paling
diketahui adalah keterlibatan sistem imunologis dan sistem saraf otonom.
Beberapa individu dengan asma mengalami respon
imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE)
kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen
mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan sel-sel
mast (disebut mediator) seperti
histamin, bradikinin, dan prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang
bereaksi lambat (SRS – A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru
mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme,
pembengkakan membran mukosa, dan pembentukan mukus yang sangat banyak.
Sistem saraf otonom mempersarafi paru.
Tonus otot bronkial diatur oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis.
Pada asma idiopatik atau nonalergi, ketika ujung saraf pada jalan napas
dirangsang oleh faktor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi dan
polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin
ini secara langsung menyebabkan bronkokonstriksi juga merangsang pembentukan
mediator kimiawi yang dibahas di atas. Individu dengan asma dapat mempunyai
toleransi rendah terhadap respon parasimpatis. Selain itu reseptor alpha dan
beta-adrenergik dari sistem saraf simpatis terletak dalam bronki. Ketika
reseptor beta-adrenergik dirangsang, terjadi bronkokonstriksi, bronkodilatasi
terjadi ketika reseptor beta-adrenergik yang dirangsang. Keseimbangan antara
reseptor alpha dan beta-adrenergik dikendalikan terutama oleh siklik adenosin
monofosfat (cyclic
adenosine monophosphate/cAMP).
Stimulasi reseptor-alfa mengakibatkan
penurunan cyclic adenosine
monophosphate /cAMP, yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi
yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokonstriksi. Stimulasi reseptor-beta
mengakibatkan peningkatan tingkat cyclic adenosine monophosphate/cAMP, yang menghambat
pelepasan mediator kimiawi dan menyebabkan bronkodilatasi. Teori yang diajukan
ialah bahwa penyekatan beta-adrenergik terjadi pada individu dengan asma.
Akibatnya, asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator kimiawi dan
konstriksi otot polos. (Smeltzer, S.C., 2002)
Obstruksi
saluran napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus, penyumbatan
mukus, edema dan inflamasi dinding bronkus. Obstruksi bertambah berat selama
ekspirasi karena secara fisioiogis saluran napas menyempit pada fase tersebut.
Hal ini menyebabkan udara distal tempat terjadinya obstruksi terjebak tidak
bisa diekspirasi. Selanjutnya terjadi peningkatan volume residu, kapasitas
residu fungsional (KRF), dan pasien akan bernapas pada volume yang tinggi
mendekati kapasitas paru total (KPT). Keadaan hiperinflasi ini bertujuan agar
saluran napas tetap terbuka dan pertukaran gas berjalan lancar. Untuk
mempertahankan hiperinflasi ini diperlukan otot bantu napas.
Gangguan yang
berupa obstruksi saluran napas dapat dinilai secara obyektif dengan VEP1
(Volume Ekspirasi Paksa detik pertama) atau APE (Arus Puncak Ekspirasi),
sedang penurunan KVP
(Kapasitas Vital Paksa)
menggambarkan derajat
hiperinflasi paru. Penyempitan
saluran napas dapat terjadi, baik pada saluran napas besar, sedang maupun
kecil. Gejala mengi (wheezing) menandakan adanya penyempitan disaluran napas
besar, sedangkan penyempitan pada saluran napas kecil gejala batuk dan sesak
lebih dominan dibanding mengi.
Penyempitan
saluran nafas ternyata tidak merata disluruh bagian baru, ada daerah – daerah
yang kurang mendapat ventilasi, sehingga darah kapiler yang melalui daerah
tersebut mengalami hipoksemia penurunan Pa02 mungkin kelainan pada asma sub
klinis (Suyono, Slamet. 2001).
C.
Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
1.
Faktor predisposisi
a.
Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya,
meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita
dengan penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit
alergi. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa
diturunkan.
2.
Faktor presipitasi
a.
Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1)
Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan, contoh: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan
polusi
2)
Ingestan, yang masuk melalui mulut, contoh:
makanan dan obat-obatan
b.
Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim,
seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan
arah angin serbuk bunga dan debu.
c.
Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Karena jika stressnya belum
diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
d.
Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala
ini membaik pada waktu libur atau cuti.
Berbagai keadaan dapat menigkatkan hiperreaktivitas saluran nafas seseorang
yaitu:
1.
Inflamasi saluran napas
Sel-sel inflamasi serta mediator kimia yang dikeluarkan terbukti berkaitan
erat gejala asma dan HSN.
2.
Kerusakaan epitel
Salah satu konsekuensi asma adalah kerusakan epitel. Kerusakan ini
bervariasi dari yang ringan sampai berat. Perubahan ini akan menigkatkan
penetrasi alergen, mediator inflamasi serta mengakibatkan iritasi ujung-ujung
saraf autonom.
3.
Mekanisme neurologis : Pada pasien asma terdapat peningkatan respon saraf para
simpatik
4.
Gangguan intrinsik : otot polos saluran napas dan hipotrofi otot polos pada
saluran napas diduga berperan dalam HSN.
5.
Obtruksi saluran nafas: meskipun bukan penyebab utama tapi obstruksi diduga
ikut berperan dalam HSN (Suyono, Slamet. 2002).
Menurut Nanda
etiologinya adalah:
1.
Lingkungan : Asap, Asap rokok
2.
Jalan napas: Spasme Inhalasi asap, Perokok pasif, Sekresi yang tertahan, Sekresi di bronkus
3.
Fisiologi : Inhalasi,Penyakit paru obstruksi kronik
(Nanda, 2007).
D.
Manifestasi
Gambaran klinis asma klasik adalah serangan
episodik batuk, mengi. dan sesak napas. Pada awal serangan sering gejala tidak
jelas, seperti rasa berat didada, dan pada asma alergi mungkin disertai pilek
atau bersin, Meskipun pada mulanya batuk tanpa disertai sekret. tetapi pada perkembangan
selanjutnya pasien akan mengeluarkan sekret baik yang mukoid, putih
kadang-kadang purulent (Suyono, Slamet. 2002).
Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan
beratnya derajad hiperaktifitas bronkus.Obstruksi jalan nafas dapat revesible secara
spontan maupun dengan pengobatan. Gejala asma antara lain :
1.
Bising mengi ( wheezing ) yang terdengar atau tanpa stetoskop
2.
Batuk produktif, sering pada malam hari
3.
Sesak nafas (Arif Mansjoer. 2001).
E.
Pathway
F. Pengkajian
Sistem Pernafasan
1.
Inspeksi :
a. Kepala
dan leher :
Bau nafas, sputum, pursed lips breathing, cyanosis bibir, adanya penggunaan otot-otot pernafasan seperti fleksi otot sternocleidomastoides. Diaphoresis, pernafasan cuping hidung, jejas pada daerah leher, deviasi trachea, peningkatan JVP (oedema pareu dan tension pneumothorak).
Bau nafas, sputum, pursed lips breathing, cyanosis bibir, adanya penggunaan otot-otot pernafasan seperti fleksi otot sternocleidomastoides. Diaphoresis, pernafasan cuping hidung, jejas pada daerah leher, deviasi trachea, peningkatan JVP (oedema pareu dan tension pneumothorak).
b. Bentuk
dan ukuran dada : ukuran diameter anterior posterior dan tranversal, dapat
ditemukan
1)
Barel chest pada klien emfisema yang ditandai dengan
peningkatan diameter anterior posterior
2)
Funnel chest : dada menjorok kedalam pada bagian bawah
sternum pada klien.
3)
Pigeon chest (pectus carinatum) : dada tampak
menyerupai dada burung yang dapat disebabkan oleh ricketsia, yang ditandai oleh
ada depresi dua bagian yaitu bagian bawah serta sternum yang menonjol.
Catat pergerakan dada yang dapat terlihat seperti adanya ketidak simetrisan pada dinding dada yang biasa terjadi pada klien dengan trauma dada atau flail chest. Lihat juga adanya jejas, tumor dan hematome serta penggunaan otot-otot bantu pernafasan , retraksi interkoste serta jenis pernafasan (perutatau dada).
Catat pergerakan dada yang dapat terlihat seperti adanya ketidak simetrisan pada dinding dada yang biasa terjadi pada klien dengan trauma dada atau flail chest. Lihat juga adanya jejas, tumor dan hematome serta penggunaan otot-otot bantu pernafasan , retraksi interkoste serta jenis pernafasan (perutatau dada).
Kaji jenis pernafasan abnormal,
meliputi:
a) cheynestoke
b) kussmaul
c) hyperventilasi
d) tachipnoe
e) dyspnoe
f) hypoventilasi (bradipnoe)
g) orthopnea
h) apnea
a) cheynestoke
b) kussmaul
c) hyperventilasi
d) tachipnoe
e) dyspnoe
f) hypoventilasi (bradipnoe)
g) orthopnea
h) apnea
2.
Palpasi
a. Trachea
Palpasi adanya massa, crepitasi, penyipangan trachea dari garis tengah (deviasi trachea)
Palpasi adanya massa, crepitasi, penyipangan trachea dari garis tengah (deviasi trachea)
b. Dada
Palpasi kesimetrisan pengembangan dada, tektur kulit, pulsasi, krepitasi, empisema subcutis massa, kehilangan kelenturan (tenderness), nyeri, bengkak. Tactile fremmitus atau Evocal fremmitus adalah fibrasi pada dinding dada yang dihasilkan oleh vocalisasi. Peningkatan fremitus terjadi karena adanya cairan atau massa seperti pada pneumonia, tumor dan di atas effuse pleura sedangkan penurunan fremitus terjadi pada effuse pleura atau atelektasis.
Palpasi kesimetrisan pengembangan dada, tektur kulit, pulsasi, krepitasi, empisema subcutis massa, kehilangan kelenturan (tenderness), nyeri, bengkak. Tactile fremmitus atau Evocal fremmitus adalah fibrasi pada dinding dada yang dihasilkan oleh vocalisasi. Peningkatan fremitus terjadi karena adanya cairan atau massa seperti pada pneumonia, tumor dan di atas effuse pleura sedangkan penurunan fremitus terjadi pada effuse pleura atau atelektasis.
3.
Perkusi
Perkusi dilakukan untuk mengkaji adanya suara resonan,hyperesonance, dullness, tymphani, dan flat.
Perkusi dilakukan untuk mengkaji adanya suara resonan,hyperesonance, dullness, tymphani, dan flat.
4.
Auskultasi
Dengarkan adanya perubahan bunyi pernafasan berupa penurunan atau hilang. Disamping itu kaji juga adanya bunyi wheezing, rales, dan ronchi. Wheezing terjadi pada pasien dengan obstruksi jalan napas yang disebabkan oleh benda asing atau tumor, PPOK. Rales dibagi menjadi 3 bagian yaitu fine, medium, coarse.
Dengarkan adanya perubahan bunyi pernafasan berupa penurunan atau hilang. Disamping itu kaji juga adanya bunyi wheezing, rales, dan ronchi. Wheezing terjadi pada pasien dengan obstruksi jalan napas yang disebabkan oleh benda asing atau tumor, PPOK. Rales dibagi menjadi 3 bagian yaitu fine, medium, coarse.
a.
Fine rales terjadi pada fibrosis interstisial
(asbestosis, edema intertisial (permulaan edema paru), terendamnya anveolus
(pneumonia), kehilangan volume paru (atelektasis) dan permulaan fase CHF
b.
Medium rales terjadi pada klien dengan edema pulmonal,
inflamasi brohial (bronchitis dan bronchiolitis)
c.
Coarse rales terjadi pada klien yang bronchusnya berisi
cairan
d.
Ronchi terjadi karena lewatnya udara melalui saluran
yang berisi cairan, ronchi kadang terdengar pada kondisi penyakit yang
menyebabkan peningkatan produksi mucus seperti pada pneumonia, bronchitis,
brochoektasis. Ronchi terdengar pada saat ekspirasi dan lebih jelas pada saat
batuk.
e.
Fleural friction rub diakibatkan karena adanya
inflamani pleura yang berhubungan dengan penyakit infeksi pada pleura, seperti
pada pleuritis, pneumonia atau kematian jaringan pleura (infark). Bunyi ini
disebabkan oleh pergesekan permukaan dua bagian pleura (visceral dan parietal)
yang mengalami inflamasi, juga dapat didengar pada dinding dada yang mengalami
fraktur.
G.
Diagnosis
Keperawatan
Ketidak efektifan pola nafas
Definisi :
Inspirasi dan atau ekspirassi yang tidak
memberi ventilasi adekuat
Batasan Karaktersitik:
-
Perubahan kedalaman pernafasn
-
Perubahan eksursi dada
-
Melakukan posisi tiga titik
-
Bradipnea
-
Penurunan tekanan ekspirasi
-
Penurunan teknanan isnprirasi
-
Penurun ventilasi semenit
-
Penurunan kapasitas vital
-
Dipnea
-
Peningkatan diameter anterior posterior
-
Pernafasan cuping hidung
-
Ortopenea
-
Fase ekspirasi memanjang
-
Penfasan bibir mecucu
-
Takipnea
-
Penggunaan otot aksorius untuk bernafas
Faktor
yang berhubungan :
-
Ansietas
-
Posisi tubuh
-
Deformitas tulang
-
Deformitas dinding dada
-
Gangguan kognitif
-
Keletihan
-
Hiperventilasi
-
sindrom hipoventilasi
-
gangguan muskuloskeletal
-
imaturitas neurologis
-
disfungsi neuromuskular
-
obesitas
-
nyeri
-
gangguan persepsi
-
ketelithan oto pernafasan
-
cedera medula spinalis
H.
Intervensi
1.
Intervensi mandiri :
a.
Lakukan pengkajian respirasi
b.
Monitor kadar saturasi oksigen
klien
c.
Atur posisi klien semifowler
d.
Lakukan FTD atau Postural drainase
2.
Intervensi kolaborasi
a.
Obat bronkodilator
b.
Terapi oksigen
I.
Daftar
pustaka :
1.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku DIAGNOSIS KEPERAWATAN dengan
Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC Edisi 7. Jakarta: EGC.
2.
Santoso,Budi.2006. Panduan Diagnosa Keperawatan
Nanda 2005-2006 Definisi & Klasifikasi. Jakarta: Prima Medika
3.
Suyono,
Slamet. 2002. Ilmu penyakit dalam jilid
II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
4.
Brunner
& Suddart. 2002. Buku ajar
keperawatan medikel bedah. Jakarta: EGC
5.
Arif
Mansjoer. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta :
Fakultas Kedokteran
6.
Nanda.2007.
buku saku diagnosa keperawatan dengan
intervensi NIC dan kreteria hasil NOC, Ed 7. Jakarta: EGC
Komentar
Posting Komentar